Petani Hutan Desa Banjaran Buat Sabun dan Briket Arang dari Kemiri

Date:

Share post:

Kelompok Tani Hutan Desa Banjaran Pesawaran Lampung Membuat Sabun dan Arang Briket dari Kemiri - Yopie Pangkey - 2
Kepala Dusun Pujo Makmur, Maryadi, bersama anggota Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapotanhut) Pujo Makmur Desa Banjaran Pesawaran, saat sedang belajar membuat sabun dan arang briket bersama mahasiswa KKN dari Itera, Kamis (19/01/2023). (Foto: Yopie Pangkey)

Banyaknya tanaman kemiri mendorong petani hutan di Desa Banjaran, Padang Cermin, Pesawaran, Lampung untuk meningkatkan manfaat dan nilai ekonominya.

Kepala Dusun Pujo Raharjo, Maryadi mengatakan, ada 113 KK di Dusun Pujo Raharjo. Dan setiap KK memiliki minimal satu pohon kemiri.

“Selama ini kami menjual biji kemirinya saja, tidak memperhitungkan produk turunannya. Padahal dari bijinya kita bisa mengolah lebih lanjut menjadi minyak. Dan minyak kemiri bisa menjadi salah satu bahan untuk pembuatan sabun mandi,” Kata Maryadi di Dusun Pujo Makmur, Kamis (19/02/2023).

- Advertisement -

Baca juga:
* Petani Hutan Desa Banjaran Pesawaran Panen Setiap Bulan dari Agroforestri

“Karena kami hanya menjual biji kemiri, otomatis ada banyak sekali limbah cangkang kemiri di sini. Dan ternyata limbah kulit kemiri ini bisa dimanfaatkan menjadi briket arang,” ujarnya.

Menurutnya, petani hutan harus bisa meningkatkan manfaat dan nilai ekonomi dari HHBK. Untuk itu, dirinya bersama Gabungan Kelompok Tani Hutan (Gapoktanhut) Pujo Makmur, mengadakan pelatihan cara membuat sabun dan shampo dari kulit kemiri serta arang briket dari kulit kemiri.

“Alhamdulillah ada kawan-kawan mahasiswa ITERA yang sedang KKN di desa kami. Mereka memiliki pengetahuan cara membuat sabun dan shampo dari minyak kemiri dan briket arang dari kulit kemiri,” katanya.

- Advertisement -

“Kawan-kawan mahasiswa ITERA juga antusias mengajarkan cara-caranya kepada kelompok tani hutan kami, termasuk ibu-ibu di sini. Caranya sangat mudah dan bahan-bahannya melimpah di sini,” kata Maryadi

Maryadi mengungkapkan, kelompoknya tidak muluk-muluk akan segera mendapat untung dari pembuatan sabun dan arang briket ini. Untuk sementara sabun, shampo dan arang briket masih digunakan untuk kebutuhan sehari-hari di dusun dan desa Banjaran umumnya.

Yang terpenting, menurut Maryadi, petani hutan di Desa Banjaran mau menerima dulu pentingnya hilirisasi produk kemiri. Petani hutan harus bisa menjaga semangat dan berlanjut mengolah HHBK yang sudah ada menjadi produk turunan lain dan terus meningkatkan kualitasnya.

“Alasan petani hutan di sini terus berinovasi adalah karena kami sangat mencintai lingkungan dan lahan yang kami kelola. Lahan di sini milik negara dan kami diperbolehkan mengelolanya dengan skema hutan kemasyarakatan. Kami semua harus sama-sama menjaga agar tajuk tanaman agroforestri yang sudah ada di sini bisa terus lestari,” ungkap Maryadi.

“Bisa saja ada kendala gagal panen karena cuaca atau hama dan lainnya. Agar anggota kami tidak menebang tanaman MPTS yang sudah ada dan sudah bagus di sini, kami harus terus berupaya memaksimalkan HHBK yang ada dengan melakukan hilirisasi produk,” imbuhnya.

Kelompok Tani Hutan Desa Banjaran Pesawaran Lampung Membuat Sabun dan Arang Briket dari Kemiri - Yopie Pangkey - 1
(Foto: Yopie Pangkey)

Sementara itu Sekretaris Desa Banjaran, Asrul Sani mengatakan, pihak desa sangat bersyukur dengan adanya kolaborasi antara Gapoktanhut Pujo Makmur dan mahasiswa KKN dari Itera.

“Ini permintaan dari ketua dan anggota Gapoktanhut Pujo Makmur. Setelah mendiskusikan apa yang mereka hasilkan dari hutan register 20 dan apa yang kawan-kawan mahasiswa bisa berikan. Sehingga terselenggaralah acara pelatihan ini,” ungkapnya di sela-sela acara pelatihan di Dusun Pujo Makmur, Kamis (19/01).

“Sejak tahun lalu anggota Gapoktanhut Pujo Makmur sudah mulai memproduksi minyak kemiri dan masih berjalan sampai sekarang. Alhamdulillah sekarang mereka sudah memikirkan menghasilak produk turunan lainnya dari kemiri,” kata Asrul Sani.

Senada dengan Maryadi, Asrul Sani juga mengatakan produk-produk baru ini mungkin masih akan digunakan sendiri oleh masyarakat desa.

Baca juga:
* Tanaman Pala RHL di Bangun Rejo Pesawaran Mulai Berbuah

“Kita lihat bersama kedepannya. Untuk sabun dan shampo kami masih perlu meningkatkan kualitasnya agar layak jual. Sedangkan briket arang dari tempurung kemiri saya sakin sudah ada peminatnya,” kata Asrul Sani.

“Yang terpenting petani hutan di Desa Banjaran Pesawaran ini terus semangat berkreasi dengan HHBK dari agroforestri di kawasan hutan register 20 ini.” Pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Related articles

Cara Menabung di Bank Digital untuk Dana Traveling

Menabung untuk traveling adalah salah satu langkah penting dalam perencanaan perjalanan yang sukses. Menabung terlebih dahulu untuk biaya perjalanan...

Menparekraf Mendukung Kesuksesan Global Game Jam Indonesia dengan 126 Karya Game Digital

Jakarta, 29 Januari 2024 - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin...

Seabourn Encore Kembali Bersandar di Pelabuhan CT-3 BPKSAntusias Pelaku Wisata Semakin menggeliat di Kawasan Sabang

Kapal pesiar mewah dengan panjang 179.76 meter tersebut kembali singgah di Pelabuhan CT-3 BPKS. Seabourn Encore yang dinakhodai...

Awal Desember 2023 Azamara Journey Hadir di Kawasan Sabang

Sabang | Hingga 2 Desember 2023 tercatat sudah 6 Kapal Pesiar sudah menyinggahi Kota Sabang yakni MS. Coral...