Petani Hutan Desa Bayas Jaya, Sekolahkan Anak dari HHBK Kemiri

Date:

Share post:

Petani Hutan Desa Bayas Jaya Sekolahkan Anak dari HHBK Kemiri - Yopie Pangkey
Sankan (44) salah satu petani hutan di Desa Bayas Jaya, Pesawaran, yang sudah mendapatkan SK Perhutanan Sosial. (Foto: Yopie Pangkey)

Kegiatan penanaman kemiri di Desa Bayas Jaya, Kecamatan Way Khilau, Kabupaten Pesawaran sudah dilakukan sejak 18 tahun lalu.

Petani hutan yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Cirompang Lestari konsisten untuk terus menanam tanaman Multipurpose Tree Species (MPTS) di kawasan hutan lindung register 21.

Di Desa Bayas Jaya ini, kemiri menjadi salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang penting bagi masyarakat.

- Advertisement -

Baca juga:
* Petani Hutan Desa Banjaran Pesawaran Panen Setiap Bulan dari Agroforestri

Sankan (44), salah seorang anggota KTH Cirompang Lestari, mengelola lahan seluas satu hektar di dalam hutan lindung register 21.

“Dalam satu hari alhamdulillah saya bisa mendapatkan kemiri rata-rata sepuluh kilogram. Berarti dalam satu bulan saya bisa mendapatkan tiga ratus kilogram.” Kata Sankan di Desa Bayas, Rabu (10/5).

“Saya bisa menjualnya delapan ribu rupiah per kilogram. Total dalam sebulan saya bisa mendapat dua juta empat ratus ribu rupiah.” Ungkapnya.

- Advertisement -

Sankan bercerita, ada beberapa kelebihan dirinya memilih menanam kemiri.

“Memang harga jual petani lebih murah dibandingkan tanaman rempah lain. Tapi biaya operasional tanaman kemiri relatif murah. Jadi sebenarnya ya sama saja hasilnya.” tuturnya.

“Selain itu panennya juga sangat mudah. Saya tidak perlu memanjat pohonnya, tunggu saja buah kemirinya jatuh. Tinggal pungut saja setiap hari atau dua hari sekali.” tambahnya.

Selain itu, menurut Sankan, hasil panen kemiri bisa disimpan dalam waktu yang lama. Kalau harganya jatuh, dia bisa menyimpannya terlebih dahulu. Menunggu sampai harga dianggapnya bagus.

“Dari panen kemiri ini, saya bisa menghidupi keluarga. Termasuk bisa mengirim anak tertua saya sekolah sekaligus nyantri di Kendondong.” ia menceritakan.

“Saya bisa menutupi biaya sekolah, pesantren, dan biaya makannya. Tinggal cari tambahan untuk uang jajannya .” tamhahnya lagi.

Sankan dan keluarganya tinggal di sebuah gubuk di dekat batas kawasan hutan lindung. Setiap hari dirinya berjalan kaki selama 15 menit menuju lahan yang dikelolanya.

Baca juga:
* Dishut Lampung Gelar Kemah Bareng di Bukit Kendeng Pesawaran

“Senang sekali saya dan kawan-kawan petani hutan di Bayas Jaya sudah mendapatkan SK Perhutanan Sosial di tahun 2020 lalu. Kami bisa mengelola tanah negara dalam kawasan hutan register 21 ini secara legal.” Kata Sankan.

“Penyuluh dari KPH Pesawaran Dinas Kehutanan Provinsi Lampung juga rutin datang. Menyambangi kami, memberi semangat, berbagi ilmu, sampai kami bisa mandiri seperti sekarang ini.” Tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Related articles

SPECTRM Borobudur Series, Dorong Lahirnya Event Berkelanjutan

Super Priority Event Creator Camp (SPECTRM), kegiatan yang merupakan kolaborasi antara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dengan...

SPECTRM, Kolaborasi GenPI dan Kemenparekraf Tingkatkan Kualitas Event dan Atraksi

Generasi Pesona Indonesia (GenPI) berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menginisiasi sebuah program pelatihan peningkatan kualitas...

HUT ke-44 Dekranas: Iriana Jokowi Tambil Elegan dengan Kebaya Berhias Benang Tapis

Ibu Negara Iriana Jokowi tampil anggun saat hadir dalam acara Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-44 Dewan Kerajinan...

Menparekraf Apresiasi Investasi Pembangunan Amenitas Baru di Sekupang, Batam

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno memberikan apresiasi terhadap industri...